bertahun-tahun berusaha meninggalkan -walaupun prakteknya nggak- pelajaran biologi demi menghindari pengklasifikasian, aku -dan kita mungkin- akan tetap mengalami pengklasifikasian, jangan tanya tentang atau bidang apa, karena butuh kesabaran untuk menjawab,
saat menjelang kelulusan SMA dan dalam proses memilih jurusan yang tepat, adalah salah satu contoh pengklasifikasian yang saya alami, seorang lulusan IPA harusnya mengambil bidang ilmu alam, yang saya tau, lulusan IPA masuknya pendidikan dokter, atau ilmu misterius semacam pendidikan matematika, yang setiap hari berkutat dengan mengapa suatu rumus ditemukan dan bagaimana rumus tersebut ditemukan, its just too much for me. about 12 years of studying and im tired of all that math problem. lets it finds its own way, and it'll be just fine.
singkatnya, aku akhirnya memilih masuk jurusan yang penuh dengan stigma dan stereotip tentang kebisaan mahasiswanya dalam meramal atau "membaca" orang, psikologi.menjadi seorang mahasiswi psikologi tidak semudah yang -dulunya- aku bayangkan. selain iman diri yang harus kuat, menghadapi berbagai macam teori kejiwaan yang sampai sekarang aku pun masih mempertanyakan, kenapaaaa aku gak bisa mempraktekan itu untukku sendiri, tapi juga tuntutan dari dunia luar. tuntutan itu berupa berjuta-juta ekspetasi yang terlalu tinggi, seperti, saat pada semester 1 saya sudah ditanyai "kan kuliah psikologi, tolong coba tebak tante kaya gimana?" atau pertanyaan lain yang datang dari seorang sahabat pria, "dia cantik gak? menurutmu orangnya gimana?" dengan hanya menunjukkan sebuah gambar dalam layar handphonenya. atau pertanyaan -yang lebih tepat sebagai pernyataan- yang terkadang terlalu mengagungkan ilmu psikologi seperti "masa calon psikolog gak bisa ngertiin sih?", atau "kamu kan calon psikolog, lebih bisa memahami pasti", atau pernyataan yang lebih bikin marah, seperti "ya kan kamu belajar banyak teori, kamu tau dong cara bikin orang seneng, cara bikin orang lain gak badmood, cara bikin orang lain termotivasi" dan sejuta "kamu bisa doong" lainnya.
lagi-lagi, merasa diklasifikasikan sebagai orang yang lebih "mengerti" dan "memahami" karena sedang dalam masa belajar psikologi.
yang sebenarnya adalah, gak semua mahasiswa psikologi masuk ke fakultas psikologi karena keinginan mereka yaaangg nantinya akan berkorelasi secara positif dengan semangat dan pemahamannya tentang berbagai teori yang dipelajari. yang lainnya adalah karena, sebagian dari mahasiswa psikologi ingin mempelajari psikologi karena ingin "berobat jalan", jadi jangan sembarangan nanya "jalan" mu ke mahasiswa psikologi. walaupun, udah pasti dengan kesadaran dijawab dengan sebaik mungkin, tapi inget, mahasiswa psikologi juga manusia. lainnya lagi, mahasiswa psikologi gak dikasih ilmu kebal mental, jadi jangan terlalu berpikir bahwa mahasiswa psikologi itu bakalan pasti ngertiin, memahami, ngayomi, dll. kalau ada diantara mereka gitu, ya itu bawaannya dari lahir emang gitu. walaupun gak menutup kemungkinan kalau dengan belajar psikologi, seseorang akan lebih berempati dengan perasaan orang lain, tapi sifat dasar itu tetap akan terbawa dan terlihat.
terakhir, ada satu yang kudu digarisbawahi banget. mahasiswa psikologi juga ada sedihnya, ada juga keadaan dimana dia butuh dikasih motivasi, ada keadaan dimana dia juga mau nangis -entah karena sedih, seneng, atau marah- tapi ditahan gara-gara gengsi atau malu atau gak tau kenapa gak bisa nangis padahal pengen nangis.
jadiiii, jangan lupa yaa, sebanyak-banyaknya teori yang didapat seorang calon psikolog, mereka masih "calon", yang udah jadi psikolog aja masih butuh belajar, apalagi yang "calon".
ada satu teori yang -jujur- aku suka banget, biasanya disebut "individual differences". teori yang mengungkapkan bahwa setiap manusia itu unik, gak ada yang sama.
teori ini yang selalu aku pegang, bahwa gak ada klasifikasi yang bener-bener bisa mengklasifikasikan. teori ini juga adalah jawaban dari semua sikap super baik dan super nyeleneh yang bisa kita temuin, misal, dari semacam sosok calon suami idaman kita yang juga bisa jadi tengil, jail, dan bikin gregetan kaya Mail. inget. manusia itu unik. keunikan itu, yang bikin kita jadi manusia, yang bisa dipakai sebagai modal untuk mengerti dan memahami orang lain, bisa juga sebagai alasan, kenapa kita suka dan akhirnya sayang sama seseorang. hehe.
gak usah nunggu jadi mahasiswa psikologi deehh, mengerti dan memahami orang lain itu pilihan yang semua orang punya, bukan kewajiban yang disandang mahasiswa psikologi.
salam unik! <3