Jumat, 23 Januari 2015

aku emang mahasiswa psikologi, terus kenapa?

pada dasarnya manusia adalah makhluk yang paling senang mengklasifikasikan sesuatu, bahasa gampangnya sih mengkotak-kotakkan atau membeda-bedakan. tapi karena mengkotak-kotakkan dan membeda-bedakan terdengar sedikit kurang sopan, daann manusia itu biasanya gak terima kalau dikurangsopanin sama orang lain, jadi kita bakalan pake istilah mengklasifikasikan. selain lebih sopan, kalian pasti setuju kalau kata "mengklasifikasikan" membuat kita terdengar lebih pintar. yang dulu dapet pelajaran biologi tentang Kingdom, pasti ngerti dan memiliki asosiasi yang kurang baik dengan kata "mengklasifikasikan" itu sendiri, katanya, klasifikasi bakal bikin tambah teratur, tambah gampang untuk mempelajari dan memahami, karena persamaan sifat -dan atau atribut lainnya- yang dimiliki masing-masing kelompok tersebut. tapi aku sih kurang setuju. walaupun AB terkenal dengan sifatnya yang mencintai keteraturan dan keseimbangan, aku gak pernah bisa paham tentang klasifikasi yang katanya bikin teratur itu.
bertahun-tahun berusaha meninggalkan -walaupun prakteknya nggak- pelajaran biologi demi menghindari pengklasifikasian, aku -dan kita mungkin- akan tetap mengalami pengklasifikasian, jangan tanya tentang atau bidang apa, karena butuh kesabaran untuk menjawab,
saat menjelang kelulusan SMA dan dalam proses memilih jurusan yang tepat, adalah salah satu contoh pengklasifikasian yang saya alami, seorang lulusan IPA harusnya mengambil bidang ilmu alam, yang saya tau, lulusan IPA masuknya pendidikan dokter, atau ilmu misterius semacam pendidikan matematika, yang setiap hari berkutat dengan mengapa suatu rumus ditemukan dan bagaimana rumus tersebut ditemukan, its just too much for me. about 12 years of studying and im tired of all that math problem. lets it finds its own way, and it'll be just fine.
singkatnya, aku akhirnya memilih masuk jurusan yang penuh dengan stigma dan stereotip tentang kebisaan mahasiswanya dalam meramal atau "membaca" orang, psikologi.
menjadi seorang mahasiswi psikologi tidak semudah yang -dulunya- aku bayangkan. selain iman diri yang harus kuat, menghadapi berbagai macam teori kejiwaan yang sampai sekarang aku pun masih mempertanyakan, kenapaaaa aku gak bisa mempraktekan itu untukku sendiri, tapi juga tuntutan dari dunia luar. tuntutan itu berupa berjuta-juta ekspetasi yang terlalu tinggi, seperti, saat pada semester 1 saya sudah ditanyai "kan kuliah psikologi, tolong coba tebak tante kaya gimana?" atau pertanyaan lain yang datang dari seorang sahabat pria, "dia cantik gak? menurutmu orangnya gimana?" dengan hanya menunjukkan sebuah gambar dalam layar handphonenya. atau pertanyaan -yang lebih tepat sebagai pernyataan- yang terkadang terlalu mengagungkan ilmu psikologi seperti "masa calon psikolog gak bisa ngertiin sih?", atau "kamu kan calon psikolog, lebih bisa memahami pasti", atau pernyataan yang lebih bikin marah, seperti "ya kan kamu belajar banyak teori, kamu tau dong cara bikin orang seneng, cara bikin orang lain gak badmood, cara bikin orang lain termotivasi" dan sejuta "kamu bisa doong" lainnya.
lagi-lagi, merasa diklasifikasikan sebagai orang yang lebih "mengerti" dan "memahami" karena sedang dalam masa belajar psikologi.
yang sebenarnya adalah, gak semua mahasiswa psikologi masuk ke fakultas psikologi karena keinginan mereka yaaangg nantinya akan berkorelasi secara positif dengan semangat dan pemahamannya tentang berbagai teori yang dipelajari. yang lainnya adalah karena, sebagian dari mahasiswa psikologi ingin mempelajari psikologi karena ingin "berobat jalan", jadi jangan sembarangan nanya "jalan" mu ke mahasiswa psikologi. walaupun, udah pasti dengan kesadaran dijawab dengan sebaik mungkin, tapi inget, mahasiswa psikologi juga manusia. lainnya lagi, mahasiswa psikologi gak dikasih ilmu kebal mental, jadi jangan terlalu berpikir bahwa mahasiswa psikologi itu bakalan pasti ngertiin, memahami, ngayomi, dll. kalau ada diantara mereka gitu, ya itu bawaannya dari lahir emang gitu. walaupun gak menutup kemungkinan kalau dengan belajar psikologi, seseorang akan lebih berempati dengan perasaan orang lain, tapi sifat dasar itu tetap akan terbawa dan terlihat.
terakhir, ada satu yang kudu digarisbawahi banget. mahasiswa psikologi juga ada sedihnya, ada juga keadaan dimana dia butuh dikasih motivasi, ada keadaan dimana dia juga mau nangis -entah karena sedih, seneng, atau marah- tapi ditahan gara-gara gengsi atau malu atau gak tau kenapa gak bisa nangis padahal pengen nangis.
jadiiii, jangan lupa yaa, sebanyak-banyaknya teori yang didapat seorang calon psikolog, mereka masih "calon", yang udah jadi psikolog aja masih butuh belajar, apalagi yang "calon".
ada satu teori yang -jujur- aku suka banget, biasanya disebut "individual differences". teori yang mengungkapkan bahwa setiap manusia itu unik, gak ada yang sama. 
teori ini yang selalu aku pegang, bahwa gak ada klasifikasi yang bener-bener bisa mengklasifikasikan. teori ini juga adalah jawaban dari semua sikap super baik dan super nyeleneh yang bisa kita temuin, misal, dari semacam sosok calon suami idaman kita yang juga bisa jadi tengil, jail, dan bikin gregetan kaya Mail. inget. manusia itu unik. keunikan itu, yang bikin kita jadi manusia, yang bisa dipakai sebagai modal untuk mengerti dan memahami orang lain, bisa juga sebagai alasan, kenapa kita suka dan akhirnya sayang sama seseorang. hehe.
gak usah nunggu jadi mahasiswa psikologi deehh, mengerti dan memahami orang lain itu pilihan yang semua orang punya, bukan kewajiban yang disandang mahasiswa psikologi.
salam unik! <3

Kamis, 22 Januari 2015

HIM :)

yang udah pernah baca postingan aku sebelumnya, mungkin tau seberapa stuck nya aku sama yang "biru" itu, yang belum tau tentang si biru? baca kek, usaha dikit, jangan manja. hehe
sekarang ada yang baruuu, udah sejak setaun lalu aku kenal sama seseorang, jangan tanya ketemu nya gimana, sumpah kaya sinetron. sebenernya terlalu singkat untuk standar sinetron indonesia, yang nyampe 500an lebih episode, kaya Tersanjung, dkk. jadi kita sebut saja kisah kami seperti FTV atau cookies~ haha
awalnya cuma iseng, buka salah satu semacam chatroom gitu, random abiissss, setelah beberapa endchat, nemuin satu akun dengan nama A*** (maaf disamarkan, mau kepo? tanya langsung), yang menarik dan bikin penasaran adalah bionya. saat akun lain sibuk menggambarkan tinggi badan, atau hobi, atau hal mainstream lain yang biasa ditulis dalam sebuah bio, pria ini menggambarkan bionya dengan "im an alien", aku yang adalah orang unik lainnya -yang walaupun di bio juga nullisnya mainstream- merasa tertarik dan penasaran pengen tau tentang si pria alien ini.
singkat kata, kita ngobrol, asik sih, karena penasaran dan mungkin karena emang dasarnya rempong, aku melontarkan amat sangat banyak pertanyaan. haha. setelah ngobrol, aku menyimpulkan kalau orang ini asik, dan akhirnya kita berteman, maksutnyaaa jadi friendlist di situ gitu. si alien ini harus log off karena dia kudu kerja. dan itu jam 11 malem, salah satu jam kerja ternyeleneh yang pernah saya temukan. akhirnya we say goodbye, trus dia off, gak lama aku juga off. bukan mau kerja, eehh kerja deng, kerja demi kesehatan mata aku -baca:bobok cantik-
esok paginya, aku yang lagi liburan semester kuliah sangat lowong dan berasa -dan emang- gak ada kerjaan, iseng, buka chatroom itu lagi, dan OMG aku lupa passwordnya, sebenernya udah biasa sih, jadi aku nyantai, tapi kaget dikit, tapi agak banyak juga deng. gak ngerti ya? biarin, yang penting mas alien ngerti HAHAHAHAHA
yaudah, aku bikin akun lagi, biar lebih pinter dari keledai, yang katanya gak mau jatuh ke lobang yang sama, aku catet pass dan akun dalam sebuah notes yang ditempelkan manis di layar laptop aku, pinter kan? emang.
akhirnya chat, biasa sih, ada yg seru juga, tapi yaudah gitu aja gitu. sampe akhirnya, ke random an itu mengkoneksikan aku dan akun dengan nama A***, lupa gimana ceritanya, dia duluan pokoknya yang inget, aku inget setelah dia, dan sadar di bio ada tulisan "im an alien", dalam hati langsung oooo si mas alien.. gitu hehe yawes, chat biasaaa, asik lama-lama jadi tiap hari. gak tau gimana ceritanya, kita jadi semacam punya jadwal buat chattingan, gitu.
chatingan mulu sih, sampai suatu malam si mas alien minta nomer hp, bilang dia udh kerja lagi dan bakal susah online, trus sok keren bilang, dalam bahasa inggris, yang intinya, aku gak mau kehilangan kamu, gitu. tapiii, kehilangannya bukan kehilangan gimana gitu loo, cuma kehilangan temen ngobrol aja kayaknya gitu.
akhirnya, aku kasih salah satu nomerku, dengan pertimbangan, ni cowok baik, asik juga, dan selama chatting gak macem-macem gitu orangnya. akhirnya, dari chattingan berubah jadi smsan deh hehe. duh banyak banget sms yang bikin deg gitu, rahasia tapi yaaa hehe trus sesuatunyaaa niiii si mas alien tanya mau ngobrol gak gitu, lemot dikit, aku tanya kan ngobrol gimana, ya udah akhirnya telponan hahaha
terjadwal lah lagi, tiap malming telponan. tambah sesuatu soalnya, sukaaaaaaaaa banget sama suara nya, suka juga sama ketawanya hehe so happy! sekarang bayangin aja seneng lolsz
singkatnya lagi, pas dia ultah, aku ngucapin, paginya ditembak, gimana mau nolak, nembaknya pas dia ultah+mau berangkat kerja, maksa parah. dah gak tau lah sama dia tuuuu, aku bisa apa? aku terima deh hahaha -padahal emang suka juga. lol-
udah 16 minggu lebih sehari, masih selalu ada yang baru, yang bikin tambah sayang. jangan tanya apa, jawabannya cuma bisa dirasain.
kalau dulu, siapapun pacarku, si biru teteeep aja sesuatu. sekarang, mas alien udah ambil semua tempat yang mungkin tersedia di hatiku buat dia sendiri hahaha. jangankan warna biru, warna apapun di dunia ini tu kalah ya sama mas alien hehe
dia itu putih nya aku, kaya gabungan dari semua warna, gabungan dari semua yang pernah aku bayangkan. putih yang bukan cuma pinter menggabungkan berbagai warna yang aku punya, tapi juga selalu netral, mau diwarnai apapun, gak akan ada perpaduan yang mati :) masih ada emang yang lebih baik dari itu? im so blessed gak siiiyyyy? hihi
semoga sih terbaik selalu, iya kan? <3